Cara Menggunakan Media Sosial yang Cerdas

Belakangan ini, banyak pengguna media sosial yang berakibat fatal hanya gara-gara sebuah postingan di Facebook. Pengguna media sosial sekarang ini sering berhadapan dengan hukum tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Baik status maupun kalimat-kalimat yang diposting di media sosial menjadi unsur sorotan pihak tertentu.

Pengguna Medsos


Bahkan tanpa disadari pengguna kerap merugikan dirinya sendiri. Bukan malah menguntungkan yang turut memberi efek positif bagi publik. Padahal kehadiran media sosial di sisi kita sangat menguntungkan dan bermanfaat. Terutama memudahkan kita saat berinteraksi sesama, dan ketika kita berkomunikasi. Jika sebelumnya jarak tempuh saat berkomunikasi harus melalui surat menyurat dan menghabiskan waktu kian detik permil untuk menyampaikan sebuah kabar gembira misalnya, sekarang begitu mudahnya, bukan hanya dapat mengirim pesan saja, kehadiran Anda dapat dideteteksi dari manapun. Jika dulu sebuah kabar duku harus diterima hanya bisa diterima secara personal melalui telepon, betapa mudahnya sekarang media sosial memberi ruang postingan yang dapat diakses oleh ribuan pengguna lainnya.

Seperti kita ketahui bahwa pengguna media sosial sarat provokatif, dan hoaks, sehingga mendapat peringatan oleh berbagai kalangan termasuk Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh, Kombes Pol T Saladin sebagaimana dilansir situs populritas.com (10 Oktober 2019) ia mengingatkan agar masyarakat untuk berhati-hati saat menggunakan media sosial. Jika disalahgunakan, maka akan berakibat fatal hingga masuk ke penjara. Mantan Kapolresta Banda Aceh ini menjelaskan, pihaknya akan terus memantau setiap aktivitas media sosial melalui tim Cyber Crime Dit Reskrimsus. Jika terdapat pelanggaran, maka akan ditindak.

Bukan tak mungkin, beberapa fakta merilis, kebanyakan pengguna media sosial di Aceh, cenderung tanpa referensi dan sumber terpercaya ketika memposting sebuah berita atau status, yang lebih parah lagi adalah nyinyir dan , apalagi etika yang dapat mengarahkan terhadap ketentuan hukum yang berlaku. Pengguna media sosial di Aceh, kebanyakan abal-abal.

Saya melihat beberapa kasus penting, terutama para bloger yang mengupdate artikel-artikel yang merupakan hasil plagiasi yang diposting setelah melakukan copypaste. Selain itu para plagiator itu tidak ambil pusing membubuhi sedikit sumber refernsi untuk mencerahkan si pembaca setelah mencopot hasil jiplakan itu.  Sementara artikel tersebut merupakan karya orang lain yang dihasilkan melalui proses panjang. Di samping itu foto-foto yang beredar di internet, tanpa memenuhi kuota UUD pers. Misalnya, foto-foto kecelakaan yang dapat memicu reaksi korban tanpa memberi sedikit memberi efek ilustration. Seharusnya, para pengguna media sosial ini sedikit peka terhadap hal-hal tersebut.Maka, sungguh disesalkan jika pengguna media sosial lebih mengedapankan hasratnya untuk menjadi viral semata tanpa disertai pertimbangan apapun.

Adapun selain itu, kita berharap agar pengguna media sosial ini, sedikit banyaknya memahami kaedah Literasi. Peran Literasi akan membentuk pola pengguna media sosial akan ruang publikatif, interaktif, komunikatif. Bahkan segala hierarki dalam medsos dapat menunjuki pengguna pada kategori-kategori tertentu yang bersifat mediasi. Sehingga tak jarang di setiap postingan status akan menjadi inspiratif bagi pengguna lainnya.

Saya melihat, terkadang postingan teman-teman di dunia maya ini bukan suatu bentuk informasi penting yang dapat dijadikan acuan, melainkan menjadi bahan sakit kepala yang menyakitkan, atau memusingkan. Terus terang, para pengguna media sosial di ruang lingkup kita, telah menjadi sebuah lelucon, atau bahan cemoohan tempat nyinyir dan saling menggunjing, serta sindiran bersifat kontradiktif, jadi tak ayal jika akhirnya terperangkap dalam kerugian.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di media masa rentan terjadi rekruitmen, bisnis online, komunitas berbasis, dan segala macam bentuk lainnya berkumpul di sana. Tingkatan pengaruh dunia maya sangat cepat teraktualisasi. Tanpa disadari pengguna telah menjadi korban di dalamnya. Tidak hanya itu, membaca berita-berita di medsos saja yang menjadi asumsi-asumsi sehari-hari juga perlu raditor sebagai penyaring yang educatif. Media bukan hanya sebatas ruang informasi dan komunikatif, akan tetapi memiliki keobjectivan tertentu.

Sering sekali kita menemukan postingan di medsos yang banyak like langsung menjadi bahan perbincangan di dunia nyata. Setelah mengkonsuntif di dunia nyata langsung menjadi sebuah perbicangan hangat di dunia maya, yang anehnya, terkadang keliru tanpa mengevaluasinya terlebih dahulu. Padahal sejatinya selama ini banyak sekali platform-plaform media tanpa terverifikasi. Lihatsaja bagaimana blog-blog non-domain beredar dengan postingan-postingan saduran. Ketahuilah bahwa para bloger itu belum tentu hadir dengan latar belakang profesional dengan kinerjanya..
Di sini, kerancuan pengguna media sering sekali terjadi, demi mengantispasi hal-hal tersebut, perlu disikapi dengan bijak dan kita harus mengambil beberapa langkah konkrit, seperti sosialasi media pada pengguna awam. Apabila perlu  menggerakkan Literasi yang merupakan mesin utama penggerak media. Selain Literasi yang dapat mendiktekan pemahaman baca tulis, juga diperlukan sinergisitas para photografer, youtuber, vloger dan lain sebagainya. Besar kemungkinan peran merekalah akan lahirnya solutif timbal balik, di Medsos.

Sebab ,engetahui layak tidaknya sebuah postingan yang beredar, mesti diawali sebuah sumber terpercaya, teraktualisasi dan terverifikasi. Memahami media sosial, tidak sama halnya dengan media cetak. Semua unsur-unsur media seperti larangan mengandung unsur sara, pornografi  tentusaja tercantum pada akhir titimangsa. Media hadir difasilitasi oleh ketentuan dan kebijakan. Maka, sedini mungkin sebelum menggeluti dan menggunakan media terlebih dahulu ada baiknya kita memerlukan kecerdasan dalam menyikapinya.

Media sosial,-- jika digunakan dalam kondisi positif akan memberi dampak positif bagi pengguna. Sebaliknya jika negatif maka seperti yang telah kita uraikan diatas akan berujung dan berakibat fatal akhirnya.

Memahami media layaknya mengetahui sebuah pelajaran yang diajarkan melalui sebuah kajian. Setelah melewati berbagai proses persyaratan, barulah bisa kita dapat menggunakan. Setiap aplikasi media sosial mengandung segala macam ketentuan saat registrasi telah disyaratkan bagi pengguna. Namun, anehnya pengguna media sosial di Aceh kerap terjadi kekeliruan. Terutama pada pemilik akun, kebanyakan diwakili sandi-sandi dengan nama beragam. Lihat saja pengguna Facebook di ruang lingkup kita. Padahal salah satu ketentuan Facebook adalah harus disertai nama pengguna Asli. Tapi, malah kita membullinya.

Maka, oleh karena itulah kita dapat menyimpulkan bahwa pengguna media yang baik adalah pengguna media sosial yang cerdas. Sejatinya pengguna media sosial yang cerdas hadir publikatif, interaktid dan komunikatif. Pengguna media sosial yang cerdas senantiasa hadir pengguna sebagai motivator dan inspiratif bagi pengguna media sosial lainnya.***(Simpang Tiga 10 Oktober 2019).

Belum ada Komentar untuk "Cara Menggunakan Media Sosial yang Cerdas"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel